SELF DISCLOSURE

SELF DISCLOSURE

  1. Pengertian

Self disclosure (keterbukaan diri) merupakan tindakan untuk mengungkapkan tentang bagaimana kita berinteraksi dengan orang terhadap situasi yang terjadi saat ini, dan memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan, yang dapat menjelaskan reaksi yang kita perbuat saat ini. Teori ini disebut juga dengan Johari Window, teori ini digunakan dalam hubungan antara pengungkapan diri dan feedback dalam suatu hubungan. Terdapat empat kuadran yaitu terbuka (open, yaitu informasi umum), rahasia (secret, yaitu orang lain tidak boleh tahu), buta (blind, yaitu orang lain tahu tentang kita tanpa kita sadari), tak dikenal (unknown, yaitu informasi yang tidak diketahui).

Sebuah hubungan pada umumnya akan diawali dengan adanya pertukaran informasi diri yang sifatnya dangkal. Seiring dengan semakin akrabnya sebuah hubungan, maka self disclosure (keterbukaan diri) akan semakin sering dan mendalam. Dengan demikian, self disclosure (keterbukaan diri) menandai kedekatan atau keintiman hubungan yang ada. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan dalam social penetration theory bahwa bila sebuah hubungan berkembang ke tingkat yang lebih akrab, maka self disclosure (keterbukaan diri), baik keluasan maupun kedalamannya akan meningkat dan peningkatan ini akan dirasakan oleh individu yang bersangkutan secara nyaman.

Seseorang akan merasa tidak nyaman bila dalam sebuah hubungan yang baru terjadi atau tidak akrab dan saat lawan bicaranya sudah mengungkapkan halhal yang bersifat pribadi. Pada umumnya, self disclosure (keterbukaan diri) bersifat saling berbalas (Reciprocal). Pada awal hubungan interpersonal, pasangan akan menyesuaikan tingkat keterbukaan dirinya dengan tingkat keterbukaan yang diberikan oleh orang lain. Bila yang satu terbuka, maka akan menstimulasi yang lainnya untuk juga terbuka, demikian pula bila yang satu kurang terbuka, maka yang lainnya juga akan mengurangi keterbukaan dirinya.

Di dalam Al-Qur’an sebagai manusia kita di anjurkan untuk berkata jujur. Seperti dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 5:

Artinya: β€œSesungguhnya tak ada satupun di bumi maupun di langit yang tersembunyi dihadapan Allah.”

Dari ayat diatas maka dapat disimpulkan bahwa menyembunyikan suatu permasalahan bukanlah cara yang baik karena tidak ada satupun hal yang tersembunyi di hadapan Allah SWT. Sebuah keberhasilan dalam membangun hubungan sosial yaitu dengan mengungkapkan diri secara jujur pada orang lain sehingga nilai-nilai positif yang ada dalam diri individu akan tersampaikan. Selain kepada sesama manusia kita juga dapat mengungkapkan diri kepada Allah SWT melalui doa. Doa bias menjadi media kita untuk mengungkapkan permasalahan yang dihadapi maupun sebagai introspeksi diri.

Dari berbagai pengertian self disclosure, maka dapat disimpulkan bahwa self disclosure adalah mengungkapkan informasi kepada orang lain. Sedangkan isi dari informasi yang diungkapkan berhubungan dengan informasi yang bersifat personal, perasaan, sikap, dan persepsi.

  • Faktor – Faktor

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self disclosure adalah meliputi:

  1. Penerimaan Sosial Kita mengungkap informasi tentang diri kita guna meningkatkan penerimaan sosial dan agar kita disukai orang lain.
  2. Pengembangan Hubungan Berbagai informasi pribadi, dan keyakinan pribadi adalah salah satu cara untuk mengawali hubungan dan bergerak ke arah intimasi.
  3. Ekspresi Diri Terkadang kita berbicara tentang perasaan kita untuk β€œmelepaskan himpitan di dada.” Setelah bekerja keras seharian kita mungkin ingin memberi tahu kawan kita tentang betapa jengkelnya kita pada bos kita dan bagaimana kesalnya perasaan kita karena tak dihargai. Mengekspresikan perasaan dapat mengurangi stress.
  4. Klarifikasi Diri Dalam proses berbagi perasaan atau pengalaman pribadi kepada orang lain, kita mungkin mendapatkan pemahaman dan kesadaran yang lebih luas. Berbicara kepada kawan tentang problem kita mungkin dapat membantu kita menjelaskan pemikiran kita tentang situasi.
  5. Kontrol Sosial Kita mungkin mengungkapkan atau menyembunyikan informasi tentang diri kita sebagai alat kontrol sosial.
  • Dimensi

Kita mengungkapkan diri lebih banyak kepada orang yang kita sukai. Pengyingkapan diri juga dapat menyebabkan rasa suka. Kita cenderung menyukai orang yang mengungkapkan informasi tentang dirinya kepada kita, mungkin kita menganggap hal itu sebagai tanda kehangatan, persahabatan, dan rasa percaya. Terakhir, mengungkapkan informasi personal kepada orang lain dapat memperkuat rasa suka kita kepada orang itu. Pengungkapan diri cenderung akan dibalas dengan pengungkapan diri. Jika berbagi informasi pribadi dengan orang lain, dia mungkin akan merespon dengan cara yang sama.

Wanita cenderung lebih banyak mengungkapkan dirinya ketimbang pria. Dalam pertemanan sesama jenis, wanita cenderung lebih terbuka kepada wanita, dibandingkan pria kepada pria. Dalam hubungan antar jenis, terutama hubungan pacaran dan perkawinan, perbedaan gender dalam pengungkapan diri ini lebih kompleks.

Wheeles merancang instrumen untuk mengukur pengungkapan diri atau self disclosure, yaitu dinamakan Wheeles Revised Self Disclosure Scale (RSDS), beberapa aspek yang dikemukakan oleh Wheeles yaitu:

  1. Tujuan (intent to disclosure) Individu melakukan keterbukaan diri secara sadar dan memiliki tujuan. Tujuan dari self disclosure yaitu seluas apa individu mengungkapkan tentang apa yang ingin diungkapkan, seberapa besaar kesadaran individu untuk mengontrol informasi-informasi yang akan dikatakan pada orang alain.
  2. Jumlah (Amount of disclosure) Kuantitas dari pengungkapan diri dapat diukur dengan mengetahui frekuensi dengan siapa individu mengungkapkan diri dan durasi dari pesan self-disclosing atau waktu yang diperlukan untuk mengutarakan stetemen self disclosure individu tersebut terhadap orang lain.
  3. Valensi (posstive and negative nature of Self-Disclosure) Valensi merupakan hal yang positif atau negatif dari penyingkapan diri. Individu dapat menyingkap diri mengenai hal-hal yang menyenangkan mengenai dirinya, memuji hal-hal yang ada dalam dirinya atau menjelekjelekkan diri individu sendiri. Faktor nilai juga mempengaruhi sifat dasar dab tingkat dari pengungkapan diri. Respon dari pengungkapan diri ini akan berpengaruh bagi individu dan juga pendengarnya.
  4. Kejujuran dan kecemasan (Honesty-Accuracy of disclosure) Kejujuran dan ketepatan diri pengungkapan diri individu dibatasi oleh tingkat dimana individu mengetahui dirinya sendiri. Pengungkapan diri dapat berbeda dalam hal kejujuran. Seorang individu dapat mengungkapkan kejujuran secara total atau dilebih-lebihkan, melewatkan bagian penting atau berbohong. Aspek ini mengacu pada content yang diungkapkan oleh individu yang direpresentasikan pada orang lain.
  5. Kedalaman (control of depth of disclosure) Individu dapat mengontrol pengungkapan diri dengan mengungkapakan informasi-informasi yang intim. Individu dapat mengungkapkan detail yang paling intim dari hidupnya, hal-hal yang dirasa sebagai periperal atau impersonal atau hal yang hanya bohong. Oleh karena itu kedalaman pemberian informasi pada individu menjadi tolok ukur bagaimana tingkatan self disclosure yang dibangun.
  • Fungsi

Menurut Darlega dan Grzelsk (dalam O Sears, dkk., 1998) ada lima funsi pengungkapan diri, yaitu:

  1. Penjernihan Diri Dengan membicarakan masalah yang sedang kita hadapi kepada seorang teman, pikiran kita akan lebih jernih sehingga kita dapat melihat duduk permasalahannya dengan baik.
  2. Ekspresi (expression) Kadang-kadang kita mengatakan segala perasaan kita untuk β€œmembuang semua itu dari dada kita”. Dengan pengungkapan diri semacam ini, kita mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kita.
  3. Keabsahan Sosial Dengan mengamati bagaimana reaksi pendengar sewaktu kita sedang mengungkapkan diri, kita memperoleh informasi tentang ketepatan pandangan kita.
  4. Kendali Sosial Kita dapat mengemukaakn dan menyembunyikan informasi tentang diri kita sebagai peranti kendali sosial.
  5. Perkembangan Hubungan Saling berbagai informasi dan saling mempercayai merupakan sarana yang paling penting dalam usaha merintis suatu hubungan dan semakin meningkatkan keakraban.

Dalam penelitian ini, fungsi self disclosure pada fitur instastory lebih tepat pada poin keempat, dimana pengungkapan diri dilakukan pada fitur instastory sebagai fungsi kendali sosial karena beberapa individu ada yang tidak mampu mengungkapkan segala sesuatu mengenai orang lain dan mengenai beberapa kejadian yang dialami dalam kehiduapan nyata secara langsung pada orang yang dimaksud dengan alasan tidak berani, canggung atau takut menyakiti hati orang tersebut. Untuk itu, ada self disclosure sebagai kendali sosial yang dapat disembunyikan pada kehiduapan nyata dan cenderung amat terbuka pada fitur instastory.

  • Manfaat dan Bahaya

Self Disclosure (Keterbukaan Diri) tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Untuk itu kita harus mengetahui manfaat dari Self Disclosure (Keterbukaan Diri) itu sendiri. Meliputi pengetahuan diri, kemampuan mengatasi kesulitan, efisensi komunikasi, dan kedalaman hubungan.

Banyaknya manfaat dari self disclosure (keterbukaan diri) tidak boleh membuat kita lupa dengan resiko-resiko di dalamnya. Meliputi penolakan pribadi dan sosial, kerugian material, dan kesulitan intrapribadi.

  • Pemahaman Diri Berkat Umpan Balik dari Orang Lain

Umpan balik dari orang lain yang kita percaya memang dapat meningkatkan pemahaman diri kita, yakni membuat kita sadar pada aspek-aspek diri serta konsekuensi-konsekuensi perilaku kita yang tidak pernah kita sadari sebelumnya (Johnson, 1981).

Kita menerima umpan balik dari orang lain apabila orang tersebut mau mengungkapkan cara ia menanggapi perilaku kita. Tujuan umpan balik adalah memberikan informasi konstruktif untuk menolong kita menyadari bagaimana perilaku kita dipersepsikan oleh orang lain dan mempengaruhinya. Umpan balik yang paling bermanfaat adalah yang mampu menunjukkan kepada kita bahwa perilaku kita tidak atau belum seefektif sebagaimana kita harapkan, sehingga kita dapat mengubahnya agar lebih efektif.

Daftar Pustaka

Joseph A. Devito, (1997). Komunikasi Antar Manusia Kuliah Dasar edisi kelima terj. Agus          Mouland. Jakarta: Professional Books.

Muhammad Budyana & Leila Mona Ganiem. (2011). Teori Komunikasi Antar Pribadi. Jakarta:   Kencana.

Sabarudin, Self-Disclosure pada Mahasiswa Pengguna Instagram (Studi Kasus Mahasiswa           Politeknik Pertanian Negeri Pangkep), Journal of communication (JcoS) Vol. 1 No. 2.            117-118.

Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears. (2009). Psikologi Sosial Edisi Kedua       Belas, di alih bahasakan oleh Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana

Supratiknya. (2014). Komunikasi Antarpribadi Tinjauan Psikologis. Penerbit Kanisius.     Yogyakarta.

Wisnu Wardhani, Dian Mashoedi, Sri Fatmawati. (2012). Hubungan Interpersonal. Jakarta:         Salemba Humanika.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *